Jumat, 06 Oktober 2017

Tahun Baru Hijriyah


Didalam tahun baru hijriah ini selayaknya, kita sebagai muslim yang taat, mengintrospeksi diri dengan semua apa-apa yang telah kita perbuat. Dan memilih semua bentuk amalan yang baik untuk tetap kita pertahankan dan kita tingkatkan porsi amalan yang baik untuk kita kerjakan. Dan meninggalakan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri kita ataupun orang sekitar kita.
Sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru hijriah, tepatnya kita akan memasuki bulan muharram. Yang berarti kita akan meninggalkan tahun lalu, dan memasuki tahun baru hijriah, yakni tahun baru 1425 hijriah. Adalah tahun baru hijriah, yang mana penyambutan tahun baru ini tidak selayaknya seperti orang-orang non muslim merayakan tahun baru miladiyahnya.
Didalam tahun baru hijriah ini selayaknya, kita sebagai muslim yang taat, mengintrospeksi diri dengan semua apa-apa yang telah kita perbuat. Dan memilih semua bentuk amalan yang baik untuk tetap kita pertahankan dan kita tingkatkan porsi amalan yang baik untuk kita kerjakan. Dan meninggalakan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri kita ataupun orang sekitar kita.
Didalam tahun baru ini, kita senantiasa berusaha untu menjadi hamba Allah SWT yang taat akan perintahnya, dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhi segala larangannya. Dan bukanlah Allah SWT telah berfirman bahwa manusia adalah hambanya yang memiliki tugas untuk beribadah. Kalaulah ditahun-tahun lalu kita masih sering melakukan berbagai kekurangan, maka marilah kita kejar kekurangan-kekurangan itu dengan semangat memperbaiki diri menuju kesempurnaan, baik itu dalam beribadah, bekerja, bermasyarakat, dan berkreasi.
Dan jika dimasa-masa lalu masih banyak berbagai kemaksiatan yang kita lakukan, maka marilah kita ganti kemaksiatan itu dengan semangat memprbanyak amalan-amalan saleh. Kapan lagi kita memperbaiki diri, kalau bukan dimulai dari sekarang? Dan pantaskah kita menundanya? Padahal kita tidak tahu kapan kehidpan didunia ini berakhir?. Dan juga ingatlah!.......bahwa Allah SWT tidak menjadikan kehidupan didunia ini abadi, firmannya dalam alqur’an, surat al-anbya 34-35 : Artinya : Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu Muhammad, maka jika kalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap bernyawa akan merasakan mati, kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada kamilah kamu sekalian dikembalikan. Ayat diatas sungguh sangat jelas menerangkan, bahwa kehidupan didunia ini tidak kekal, dan semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.
Jika demikian untuk apalagi kita berlama-lama dalam kubangan kemaksiatan, dan untuk apalagi kita menunggu hari esok untuk berbuat amalan soleh. Dan bukankah kita sudah tahu bahwa ajal manusia adalah rahasia Allah SWT semata. Firmannya dalam al-Qur’an menyatakan: Artinya : “Tiap-tiap umat memiliki batasan waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak akan mengundurkannya barang sesaatpun, dan tidak dapat pula memajukannya�. Dengan ayat ini kita dapat memahami bahwa umur kita akan terus berjalan seiring jarum jam berputar, dan “kesempatan� tidak akan pernah mengiringi putaran jarum jam, dan yang pasti “kesempatan itu� tidak akan pernah ada untuk kedua kalinya. Ini berarti umur kita bukannya semakin bertambah, tetapi sebaliknya dari tahun ketahun umur kita semakin berkurang.
Oleh sebab itu marilah kita isi hidup kta ini dengan memperbanyak amalan soleh, belajar dengan giat, bekerja dengan ikhlas, dan beribadah dengan hanya mengharap ridho Allah SWT semata. Sekarang kita masih hidup, tetapi siapa tahu beso pagi kita akan mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru hijriah, tetapi siapa tahu tahun depan kita akan mati.
Adalah satu riwayat yang menceritakan tentang anak Umar bin khotob, kembali pulang dari sekolahnya sambil menghitung tambalan-tambalan yang melekat dibajunya yang sudah usang dan jelek. Dengan rasa kasihan umar sang Amirul mu’minin sebagai ayahnya mengirim sepucuk surat kepada bendaharawan negara, yang isinya minta agar beliau diberi pinjaman uang sebanyak 4 dirham, dengan jaminan gajinya bulan depan supaya dipotong. Kemudian bendaharawan itu mengirim surat balasan kepada umar, yang isinya demikian : “wahai umar adakah engkau telah dapat memastikan bahwa engkau akan hidup sampai bulan depan?, Bagaimana kalau engkau mati sebelum melunasi hutangmu?� Membaca surat bendaharawan itu, maka seketika itu juga umar tersungkur menangis, lalu beliau menasehati anakanya dan berkata : “Wahai anaku, berangkatlah kesekolah dengan baju usangmu itu sebagaimana biasanya, karna akau tidak dapat memperhatikan umurku walaupun untuk satu jam.� Sungguh, batasan umur manusia tidak ada yang mengetahuinya, kecuali hanya Allah SWT semata.
Oleh karna keterbatasan tersebut, dan karna rahasia Allah SWT semata, maka marilah kita pergunakan kesempatan hidup ini dengan meningkatkan taqwa kita kepadanya dan menambah semangat beramal ibadah yang lebih besar lagi. Kembali kepada masalah introspeksi diri dalam menyambut tahun baru hijriah, adalah sangat-sangat perlu bagi kita untuk berkaca diri, menilai dan menimbang amalan-amalan yang telah kita perbuat, penilaian dan penimbanagan ini bukan hanya untuk mengetahui seberapa besar perbuatan kita. Tapi itu semua dilakaukan untuk mengendalikan semua bentuk amalan perbuatan yang hendak kita laukakan dengan penuh pikiran, pertimbangan, dan pertanggung jawaban. Sebab dan terkadang manusia yang tidak pernah bercermin diri bagaikan binatang liar yang terlepas dari jeratan, ia akan berlari dengan sekencang-kencangnya dan melompat dengan sekuat tenaga tanpa menghiraukan kalau itu akan mebahayakannya kembali. Manusia yang demikian akan berbuat sekehendak hatinya, tanpa berpikir dan pertimbangan, yang pada akhirnya ia akan terjatuh ditempat yang sama dan meratapi perbuatannya dengan berulang-lang kali, sungguh malang nasibnya jika setiap tahun ia harus terjatuh dan terjatuh lagi ditempat yang sama.
Ada satu sabda nabi yang mengutarakan tentang perbuatan yang tercela, adalah sebagai berikut : Artinya : “Tanda kecelakaan itu ada empat:
1. Tidak mengingat ingat dosa yang telah lalu, padahal dosa-dosa itu tersimpan disisi Allah SWT .
2. Menyebut nyebut segala kebaikan yang telah diperbuat padahal siapa pun tidak tahu apakah kebaikan kebaikan itu diterima atau ditolak.
3. Memandang orang yang lebih unggul dalam soal duniawi.
4. Memandang orang yang lebih rendah dalam hal agama. Allah SWT berfirman, aku menghendaki dia sedang dia tidak menhendaki diriku, maka dia aku tinggalkan.� Sungguh sangat malang dan tiada ungkapan bagi manusia yang ditinggalkan sang kholiq. Akan tetapi Allah SWT , maha bijaksana, sehingga ia tidak menghendaki hamba-hambanya terjerumus dalan kehancuran. Akan tetapi Allah SWT memberikan tuntunan hidup yang berupa agama Islam, yang didalamnya terdapat ajaran-ajaran yang menuju kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.
Oleh sebab itu berbahagialah bagi mereka yang memperoleh nikmat umur yang panjang dan mengisinya dengan amalan-amalan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang bijak. Rasulullah SAW bersabda : Artinya : “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya� ( HR Ahmad)� Adalah suatu tindakan yang bijak, jika manusia berbuat salah kemudian ia sadar dan memperbaiki kesalahannya dengan berbuat amalan yang baik dengan komitmen tidak akan mengulangi kesalahannya itu.
Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa :
1. Sebagai muslim yamg taat dengan ajaran tuhannya, hendaklah kita menyambut tahun baru hijriah ini dengan berbuat dan memperbaiki amalan-amalan kita ditahun lalu.
2. Dan hendaklah menyambut tahun baru ini dengan tidak seperti non muslim merayakan tahun baru miladiyahnya.
3. Hidup manusia semakin hari semakin berkurang, maka layaknya manusia yang taat pada tuhannya haruslah ia mempergunakan kesempatan hidupnya didunia ini dengan sebaik mungkin. Karna memang ajal manusia rahasia tuhan, dan jarum jam tidak akan pernah berbalik arah sudah sepantasnyamanusia itu memperbaiki dirinya.
Wallahu A'lam
KEKELIRUAN DALAM MENYAMBUT AWAL TAHUN BARU HIJRIAH 
Sebentar lagi kita akan memasuki tanggal 1 Muharram. Seperti kita ketahui bahwa perhitungan awal tahun hijriyah dimulai dari hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu bagaimanakah pandangan Islam mengenai awal tahun yang dimulai dengan bulan Muharram? Ketahuilah bulan Muharram adalah bulan yang teramat mulia, yang mungkin banyak di antara kita tidak mengetahuinya. Namun banyak di antara kaum muslimin yang salah kaprah dalam menyambut bulan Muharram atau awal tahun. Silakan simak pembahasan berikut.

Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram
Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut. 
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”
(QS. At Taubah: 36)

Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”[1]
Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallambersabda, 
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”[2]
Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.  Oleh karena itu bulan Muharram termasuk bulan haram.

Di Balik Bulan Haram
Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram ? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullahmengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna.
Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”[3]
Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”
Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”[4]

Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)
Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[5]
Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalahAllah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.[6]

Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, ”Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami.
Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Muharram. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.”[7]
Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?”
Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram).[8]
Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al ’Iroqiy di atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa.

Menyambut Tahun Baru Hijriyah
Dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan atau pun amalan?
Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali menguatarakan sebuah kalimat,
لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ
“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.”[9] I
nilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.[10]
Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.

Amalan Keliru dalam Menyambut Awal Tahun Hijriyah
Amalan Pertama: Do’a awal dan akhir tahun
Amalan seperti ini sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali. Amalan ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama besar lainnya. Amalan ini juga tidak kita temui pada kitab-kitab hadits atau musnad. Bahkan amalan do’a ini hanyalah karangan para ahli ibadah yang tidak mengerti hadits.

Yang lebih parah lagi, fadhilah atau keutamaan do’a ini sebenarnya tidak berasal dari wahyu sama sekali, bahkan yang membuat-buat hadits tersebut telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.
Jadi mana mungkin amalan seperti ini diamalkan.[11]

Amalan kedua: Puasa awal dan akhir tahun
Sebagian orang ada yang mengkhsuskan puasa dalam di akhir bulan Dzulhijah dan awal tahun Hijriyah. Inilah puasa yang dikenal dengan puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini. 
“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta'ala menjadikan kaffarot/tertutup dosanya selama 50 tahun.”
Lalu bagaimana penilaian ulama pakar hadits mengenai riwayat di atas:
  1. Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (181)  mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.
  2. Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.
  3. Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.[12]
Kesimpulannya hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.

Amalan Ketiga: Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah
Merayakan tahun baru hijriyah dengan pesta kembang api, mengkhususkan dzikir jama’i, mengkhususkan shalat tasbih, mengkhususkan pengajian tertentu dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah, menyalakan lilin, atau  membuat pesta makan, jelas adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Karena penyambutan tahun hijriyah semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, para sahabat lainnya, para tabi’in dan para ulama sesudahnya. Yang memeriahkan tahun baru hijriyah sebenarnya hanya ingin menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh Nashrani. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir). Secara gamblang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[13]

Penutup
Menyambut tahun baru hijriyah bukanlah dengan memperingatinya dan memeriahkannya. Namun yang harus kita ingat adalah dengan bertambahnya waktu, maka semakin dekat pula kematian.
Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.”[14]
Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu.”[15]
Semoga Allah memberi kekuatan di tengah keterasingan. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Diselesaikan di wisma MTI (secretariat YPIA), 30 Dzulhijah 1430 H.


KTSP

https://drive.google.com/drive/u/0/my-drive

Senin, 15 Agustus 2016

Profil Desa Pengadegan Purbalingga Jawa Tengah




1.       GAMBARAN UMUM DESA PENGADEGAN  
a)                 Kondisi Geografis
Luas wilayah Desa Pengadegan  157.873 ha yang terdiri dari pemukiman penduduk 75.020 ha, tanah sawah 25.010 ha dan tanah tegalan/daratan 57.843 ha. Batas-batas wilayah Desa Pengadegan  sebagai berikut :
a.    Sebelah Utara        :  Desa Tetel
b.    Sebelah Timur      :  Desa Tegalpingen
c.     Sebelah Selatan     :  Desa Pasunggingan
d.    Sebelah Barat        :  Desa Sinduraja
b)                 Jarak Desa
Desa Pengadegan  masuk dalam wilayah Kecamatan Pengadegan  berjarak 9 km dari Pusat Kecamatan dan 20 km dari kota Kabupaten Purbalingga. Desa ini mempunyai sarana jalan beraspal dan jalan berbatu. Desa Pengadegan  terletak pada ketinggian sekitar 120 dpl (diatas permukaan laut).
c)                  Keadaan Penduduk
Jumlah Penduduk Desa Pengadegan  sebanyak 2.823 jiwa yang terdiri dari 1.396 jiwa penduduk laki-laki dan 1.427 jiwa penduduk perempuan. Jumlah Kepala Keluarga sebanyak 855 KK, jumlah bayi 44 jiwa dan jumlah balita 157 jiwa.
d)                 Keadaan Sosial dan Ekonomi Masyarakat
Mayoritas penduduk Desa Pengadegan  beragama Islam, dengan mata pencaharian sebagian besar sebagai petani. Masyarakat Desa Pengadegan  berdasarkan tingkat kesejahteraannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Klasifikasi Kesejahteraan
Jumlah (KK)
Kelompok rumah tangga mampu
145
Kelompok rumah tangga menengah
347
Kelompok rumah tangga tidak mampu
363
Jumlah
855



3.1.1. Letak Geografis dan Kondisi Topografi
        Desa Pengadegan Kecamatan Pengadegan terletak di bagian Utara Kota Kabupaten Purbalingga berjarak kurang lebih 12 Kilo Meter dari Ibukota Kabupaten. Masyarakat Desa Pengadegan bermata pencaharian selain sebagai petani dan buruh tani juga berkebun dan berdagang. Desa Pengadegan di bagian selatan berbatasan dengan Desa Pasunggingan, di bagian utara berbatasan dengan desa Tetel, di bagian barat berbatasan dengan desa Sinduraja dan di bagian timur berbatasan dengan desa Tegalpingen. Desa Pengadegan terbagi dalam 6 Dusun dan 46 RT.

3.1.2.Kependudukan dan Pendapatan Masyarakat
Masyarakat Desa Pengadegan Jumlah Penduduknya sebanyak 9.994 jiwa yang terdiri dari 4.929 jiwa perempuan dan 5.065 jiwa laki-laki, rata-rata jumlah anggota keluarganya tiap KK berjumlah 4  orang :
1. Kadus  I      :  205  KK
2. Kadus II     :  183  KK
3. Kadus III    :  205  KK
4. Kadus IV     :  222  KK
5. Kadus V      :  244  KK
6. Kadus VI     :

Dengan kondisi topografi daerah Perbukitan. Perkebuna dan areal persawahan Sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani, berkebun, dan berdagang yang mempunyai pendapatan rata-rata berkisar 25.000 – 30.000 per harinya. Kondisi sosial masyarakat dari hasil pelaksanaan MPA/PHAST diketahui masyarakat Kaya 109 KK, menengah  390  KK  dan  Miskin  560  KK.


Tabel 2.Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga berdasarkan Klasifikasi Kesejahteraan

RW
Jumlah Penduduk
Jumlah Rumah Tangga berdasarkan Tingkat Kesejahteraan (rumah/kk)
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Kaya
Menengah
Miskin
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
Kadus I
356
349
705
18
111
76
205
Kadus II
330
334
664
16
89
78
183
Kadus III
327
423
750
19
48
138
205
Kadus IV
377
374
751
21
65
136
222
Kadus V
374
345
719
35
77
132
244
Kadus VI  







Jumlah









Mayoritas penduduk Desa Pengadegan beragama Islam, dengan mata pencaharian sebagian besar sebagai buruh tani dan petani. Masyarakat Desa Pengadegan berdasarkan tingkat kesejahteraannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 3; Klasifikasi Kesejahteraan Masyarakat Desa Pengadegan
Klasifikasi Kesejahteraan
Jumlah (KK)
Kelompok rumah tangga mampu
109
Kelompok rumah tangga menengah
 390
Kelompok rumah tangga tidak mampu
 560
Jumlah
1059





 


















Berdasarkan tingkatan proporsinya keadaan sosial ekonomi di Desa Pengadegan dapat dilihat pada gambar diatas :


3.1.3. Tingkat Pendidikan dan Fasilitas Kesehatan
Tingkat pendidikan Masyarakat Desa Pengadegan pada umumnya sebagian besar tanpa pendidikan formal baik laki-laki maupun perempuan, sebagian Tingkat Sekolah Dasar dan Menengah dan ada sebagian yang sarjana. Antara laki-laki dan perempuan jumlah laki - laki pada umumnya lebih banyak pada semua kelompok tingkat pendidikan di atas.
Fasilitas Kesehatan yang ada adalah Posyandu, Posdaya dan PKD yang berada langsung dalam desa tersebut dan ada bidan desa dan Perawat/Mantri yang menangani secara dini beberapa penyakit masyarakat.

3.1.4. Klasifikasi Kesejahteraan
Tools klasifikasi kesejahteraan merupakan instrumen pada pola pendekatan dengan metode MPA/PHAST yaitu untuk mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat yang telah di tentukan berdasarkan 3 kriteria yaitu Kaya, menengah dan Miskin. Ketiga kriteria ini akan melihat kepemilikan (aset yang dimiliki oleh masyarakat), tingkat pendidikan, pekerjaan dan akses terhadap sarana air bersih. Dari klasifikasi kesejahteraan diperoleh output sebagai     berikut :
- Kelompok Masyarakat Kaya                   : 10.30 %
- Kelompok Masyarakat sedang               : 36.82 %
- Kelompok Masyarakat Miskin                 : 52.88 %


 









3.1.5. Fasilitas Air dan Sanitasi Sebelum PAMSIMAS
Sarana Air Bersih dan Sanitasi (SAB/S) yang ada sebelum Program PAMSIMAS ada di Desa Pengadegan, Kecamatan Pengadegan,                 Kab. Purbalingga, dapat digambarkan kedalam 2 (dua) sarana, yaitu :
a.               Sarana Air Bersih (SAB)
·         Jenis Opsi,Mata air sebagai sumber yang dipakai masyarakat
·         Kebiasaan masyarakat Desa Pengadegan mengambil air Untuk kebutuhan sehari hari yaitu memasak, minum, mandi dan mencuci dengan menggunakan mengambil di mata air dan sumur gali.

b.              Sarana Sanitasi
·         Sarana sanitasi yang ada sebelumnya berupa jamban pribadi masyarakat yaitu leher angsa dan Cubluk / Cemplung.
·         Kebiasaan masyarakat BAB ada yang menggunakan jamban pribadi bagi masyarakat yang punya, namun bagi masyarakat yang tidak memiliki jamban ada yang BAB di Kebun,sungai, atau di sembarang tempat.
Tabel 4.Jumlah Penduduk dan Akses Awal Terhadap Sarana Air Minum dan Sanitasi

Dusun/RW
Jumlah
Rumah tangga yang mempunyai akses awal
Penduduk
(jiwa)
Rumah Tangga (rumah/kk)
Sarana air minum
(rumah/kk)
Sarana sanitasi
(rumah/kk)
1
2
3
4
5
Kadus I
698
256
222
175
Kadus II
665
187
115
100
Kadus III
749
244
150
101
Kadus IV
748
266
124
148
Kadus V
717
193
67
70
Kadus VI




Jumlah
















3.2.2. Organiasi di Tingkat LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat)
                  
STRUKTUR ORGANISASI LKM “TIRTO SARI”
PROGRAM PAMSIMAS TA. 2010
DESA PENGADEGAN KECAMATAN PENGADEGAN
KABUPATEN PURBALINGGA









 


















 
















BAB VIII
LAMPIRAN

8.1.       Proses Pelaksanaan
8.2.       Foto-foto kegiatan





PHBS di Masyarakat
 
 


PHBS di Masyarakat
 
 



PHBS di Masyarakat
 
 


PHBS di Masyarakat
 
 
                                                                                                                                               


Sarana Cuci Tangan Sekolah
 
 





Sarana Cuci Tangan Sekolah
 
 


Kegiatan CLTS
 



Kegiatan CLTS

 



Bak Penangkap
 
 




Bak Penangkap
 
 


Kran Umum
 
 





Kran Umum
 
 




Kegiatan PHBS di Sekolah

 
 





Kegiatan PHBS di Sekolah
 
 



Sarana Sanitasi Sekolah
 



Sarana Sanitasi Sekolah
 

Swadaya Masyarakat
 



Swadaya Masyarakat
 

Swadaya Masyarakat Pembuatan Bak Penangkap Mata Air
 



Swadaya Masyarakat Pembuatan Bak Penangkap Mata Air

 
 
Bak  Penampung / Reservoar
 
Bak   Penampung / Reservoar

 

Bak   Penampung / Reservoar

 

Jembatan Pipa

 



Jembatan Pipa
 


Bak Pelepas Tekan
 



Bak Pelepas Tekan
 

Kegiatan Pemasangan Pipa
 



Kegiatan Pemasangan Pipa

 

Kegiatan Pemasangan Pipa
 



Kegiatan Pemasangan Asessories Pipa

 

Kegiatan Pembuatan Bak Penampung
 



Kegiatan Pembuatan Bak Penampung

 
Kegiatan Pemilihan LKM
 



Kegiatan Pemilihan LKM

 

Kegiatan Pengukuhan LKM
 



Kegiatan Pengukuhan LKM

 


Kegiatan Pengesahan LKM oleh Notaris
 



Kegiatan Pengesahan LKM oleh Notaris

 


Kegiatan IMAS
 



Kegiatan IMAS

 
Kegiatan IMAS
 



Kegiatan IMAS

 


Kegiatan Pengukuran Jaringan Perpipaan
 



Kegiatan Pengukuran Jaringan Perpipaan
 


Kegiatan Pleno di Masyarakat
 



Kegiatan Pleno di Masyarakat

 

Kegiatan Pembangunan Bak Pelepas Tekan
 
 
Kegiatan Pelatihan LKM
 




Kegiatan Pelatihan LKM

 
 

Kegiatan Pelatihan Kader Kesehatan
 



Kegiatan Pelatihan Kader Kesehatan

 
 




Kegiatan Monitoring dari TKK
 
 



Kegiatan Monitoring dari TKK

 
 

Kegiatan Asistensi RAB di DPU
 



Kegiatan Asistensi RPD di DPU

 
 

Pelatihan Badan Pengelola Sarana
 
 




Pelatihan Badan Pengelola Sarana